Cancang Mentoro: Saksi Bisu dari Era Majapahit
Di sebuah tepi jalan Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang—wilayah yang juga dikenal sebagai kampung halaman budayawan Emha Ainun Nadjib (Cancang Menturo / Mentoro)—tertanam sebuah batu hitam kehijauan menyerupai kubus dengan tinggi sekitar 20 cm lebih. Bagi orang awam, batu tersebut tampak seperti batu jalanan biasa yang tertanam di tanah, mengalami pelapukan, serta diselimuti lumut. Namun, di balik fisiknya yang bersahaja, batu yang dikenal dengan nama Cancang Menturo (atau Cancang Manturo) ini menyimpan nilai sejarah tinggi sebagai saksi bisu peradaban Kerajaan Majapahit.
1. Fungsi Utama: Patok Pengikat Tali Kapal (Cancang)
Kata cancang dalam bahasa lokal merujuk pada patok atau tempat mengikat tali pelayaran. Pemerhati sejarah dan budayawan asal Jombang yang juga warga asli Menturo, Nasrul Illah (Cak Nas, adik kandung Cak Nun), membenarkan bahwa batu tersebut dahulunya difungsikan sebagai tempat mengikat/menambat tali kapal pada masa Kerajaan Majapahit.
Berdasarkan penuturan Nasrul Illah:
- Keberadaan Dua Batu: Pada masa lalu, terdapat dua batu Cancang di Desa Menturo yang berjarak sekitar 150 meter antara satu sama lain, di mana salah satu batunya berada di sebelah barat desa.
- Jalur Perairan Kuno (Wewetih): Kawasan Desa Menturo dahulu merupakan alur perairan Sungai Watudakon yang pada zaman Majapahit dikenal dengan nama Wewetih. Sungai ini merupakan jalur transportasi air utama yang terhubung dari muara Sungai Brantas di Desa Jombok (Dusun Mbeluk), Kecamatan Kesamben/Sumobito.
- Aktivitas Perairan: Dua batu Cancang ini menjadi dermaga atau titik muara bersandarnya kapal-kapal penumpang dan barang sebelum melanjutkan perjalanan ke darat.
2. Gerbang Jalur Darat Menuju Ibu Kota Majapahit (Wilwatikta)
Lokasi Cancang Menturo memiliki posisi yang sangat strategis dalam peta wilayah Kerajaan Majapahit. Dari titik tambatan kapal di Menturo, perjalanan menuju pusat kerajaan dilanjutkan melalui jalur darat:
Dari lokasi dua batu Cancang, perjalanan menyusuri perairan berlanjut hingga sekitar 1 kilometer.
Di titik tersebut, rute berganti menjadi jalan darat yang ditandai dengan Tugu Badas (sekarang masuk wilayah Desa Sebani, Kecamatan Sumobito).
Jalur darat dilanjutkan melewati daerah Sagada (yang kini dikenal sebagai Desa Segodorejo).
Bersebelahan dengan Desa Badas, terdapat pula Desa Madyopuro yang disinyalir kuat sebagai kawasan Ibu Kota Majapahit (Kota Raja Wilwatikta), di mana nama Madyopuro itu sendiri masih bertahan hingga sekarang.
Catatan rute dan lalu lintas kuno ini merujuk pada beberapa bait kitab kuno Negarakertagama karya Empu Prapanca.
3. Temuan Arkeologis dan Bukti Pemukiman Elite
Informasi historis dari kitab Negarakertagama tersebut diuji dan ditindaklanjuti secara ilmiah melalui proses ekskavasi arkeologi oleh Nurhadi Rangkuti (Arkeolog dari BP3 Yogyakarta).
Hasil Penggalian dan Bukti Sejarah:
- Ekskavasi Arkeologi: Penggalian dilakukan di titik sekitar 200 meter dari lokasi batu Cancang.
- Penemuan Keramik Elite: Dalam penggalian tersebut ditemukan pecahan keramik mahal. Penemuan keramik berkualitas tinggi ini mengindikasikan bahwa area di sekitar Cancang Menturo pada era Majapahit bukanlah kawasan permukiman rakyat biasa, melainkan kompleks bangunan milik kalangan elit/bangsawan kerajaan.
- Temuan Barang Berharga: Nasrul Illah menambahkan pengalaman masa kecilnya di mana warga sekitar kerap menemukan piring keramik mahal serta benda-benda emas di sekitar lokasi tersebut.
4. Pesanggrahan Ratu Champa
Keistimewaan kawasan Menturo pada era Majapahit juga diperkuat oleh pernyataan Presiden ke-4 RI, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Menurut almarhum Gus Dur, wilayah Mentoro pada masa lalu merupakan lokasi Pesanggrahan Ratu Champa (RR Handarawati).
RR Handarawati adalah bangsawan putri asal Kerajaan Champa yang telah memeluk agama Islam dan menjadi istri selir dari Raja Majapahit terakhir, Prabu Brawijaya V. Dari garis keturunan beliau inilah lahir Raden Patah, yang kelak menjadi pendiri dan Sultan pertama Kesultanan Demak.
Kesimpulan
Situs Cancang Menturo bukan sekadar batu tua di pinggir jalan desa, melainkan artefak otentik yang membuktikan bahwa wilayah Jombang—khususnya Desa Mentoro di Kecamatan Sumobito—merupakan gerbang pelabuhan perairan darat yang sangat vital, menghubungkan Sungai Brantas dengan pusat kekuasaan Kerajaan Majapahit.